Kamis, 01 Desember 2016

Belum Ada

masih sering aku bertanya-tanya
mengenai keberadaanmu dalam ketiadaan yang aku terima
tak jarang pula aku menerka-nerka
tentang kapan sebenarnya aku benar-benar bisa meninggalkan

karena sebenar-benarnya
hingga saat ini,
ketika kau telah jauh memunggungi keberadaanku
aku masih belum benar-benar memalingkan wajah

namun dari semua usaha yang pernah aku paksakan
belum ada satupun yang mempu menarik perhatianku
agar aku kembali melakukan apa yang mampu kau lakukan
meninggalkan.

Kamis, 24 November 2016

Kehilangan yang Harus Disyukuri

Pada tanggal 21 November 2016, saya membawakan safety talk kepada rekan-rekan kerja saya. Materi saya pada saat itu adalah mengenai Budaya K3, saya membawakannya dengan mengawali kata kehilangan. Saya akan ilustrasikan.

S : Selamat pagi, rekan-rekan sekalian. Seperti biasa, pada setiap hari senin pagi saya akan menyampaikan beberapa hal dan informasi terkait Keselamatan dan Kesehatan Kerja untuk kita semua.
R : Pagi !!!
S : Bagaimana menurut rekan-rekan sekalian, apakah kehilangan itu sakit?? kehilangan itu adalah hal yang buruk ya??
R : Sakit!! Menyedihkan!! Tidak enak!!

Ada seorang rekan saya yang nyeletuk :

R : Tapi, kehilangan rasa sakit adalah sesuatu yang harus di syukuri karena itu adalah sebuah kebaikan.
S : (saya terdiam beberapa saat) iya juga ya pak. 

Setelah rekan saya mengatakan hal tersebut, tiba-tiba saja semua materi yang telah saya persiapkan menghilang dari pikiran saya. Saya mencoba mengingat semua bahan yang seharusnya saya sampaikan pada waktu itu, namun rasanya percuma. Pada akhirnya saya menyampaikan hal-hal yang tidak relevan dengan apa yang telah saya sampaikan. Rasanya saya ingin segera mengakhiri kegiatan tersebut detik itu. Dan saya mengakhirinya dengan sangat buruk tugas saya pada hari itu.

Saya memikirkan kebenaran mengenai hal tersebut, ternyata selama ini yang biasa dilakukan sebagian besar orang termasuk saya, saat merasa kehilangan adalah kesedihan, kesedihan, dan kesedihan. Kesedihan yang dalam berbagai tingkatan, kesedihan yang hanya sesaat, kesedihan berkepanjangan, menyembunyikan kesedihan, menyimpan kesedihan, menceritakan kesedihan dan lain-lain.
Ya, setelah dipikirkan lagi, kesedihan adalah sesuatu yang wajar dan bahkan harus dilakukan ketika seseorang menghadapi kehilangan. Tapi apakah cara-cara yang dilakukan oleh orang-orang yang merasa kehilangan dapat benar-benar membawa diri mereka menjadi seseorang yang lebih baik, atau lebih buruk. Mengantarkan mereka kepada sesuatu yang lebih baik atau sama saja atau lebih buruk.

Kehilangan bukanlah sesuatu yang direncanakan, ia selalu diakhiri dengan sebuah penyesalan. Urusan kembali bangkit dari keterpurukan adalah selalu belakangan, tergantung dari pribadi yang kehilangan.
Kehilangan itu seperti sakit, bisa dicegah dengan cara-cara yang ada, tapi jika semua usaha telah dilakukan kehilangan tetap terjadi, hanya bisa pasrah.
Kehilangan juga seperti kecelakan, bukan sesuatu yang diharapkan. Terjadi tanpa keinginan dan perencanaan.

Selalu ada hikmah dibalik sebuah kejadian, hal tersebut seperti sebuah kepastian yang dihadapi. Tidak hanya kehilangan, segala sesuatu, dalam hidup, pada kenyataannya adalah hal-hal yang harus dihadapi. Segala sesuatu, dan segala kondisi, serta segala waktu. (termasuk kamu, karena kamu segalanya) hahaha.

Selalu ada kebaikan setelah kita melalui segala (yang kita anggap) keburukan. Meski hal tersebut tidak datang secara berdampingan dan dalam waktu yang instan. 
Kenapa kebaikan selalu dinanti, dan tidak ada satupun yang menanti keburukan? karena keburukan adalah bukan bagian dari harapan. Untuk hidup, jika gagal kita butuh sebuah kesempatan entah untuk gagal lagi atau untuk berhasil. (semakin jauh dari judul dan pembahasan)

Jadi kehilangan adalah sesuatu yang pada saatnya harus disyukuri, pada saatnya juga kita akan mengingatkan diri kita kembali bahwa jika hal yang pernah kita lalui kehilangan yang pernah kita hadapi memberikan sesuatu yang lebih berarti, lebih baik. Entah itu untuk diri kita sendiri, bahkan untuk orang lain.

Jika ada yang menanyakan perihal obat apa yang bisa menyembuhkan, hal apa yang bisa diperbuat, dan lain-lain untuk mengobati rasa luka dari kehilangan, tidak ada jawaban yang pasti untuk hal tersebut yang dipertanyakan. 
Tubuh kita diciptakan dengan kekuatan masing-masing, berbeda-beda satu sama lain, entah itu ketahanan antibodi, ketahanan akan rasa sakit dihati dan lain-lain. Jadi, coba dinikmati. Jika tidak merasakan rasa sakit, maka tidak akan sembuh. penyembuhan dapat dilakukan dengan cara kita yang nyaman untuk sendiri-sendiri. Ada yang senang menangis sampai harus mengisi airmata lagi, ada yang tertawa menceritakan kesedihan dan keresanhannya dengan cara berbagi dengan orang lain, ada yang menuliskan kesedihannya untuk suatu waktu akan dikenang dan membawanya keingatan yang pernah membuatnya jatuh, ada yang mencari pengganti dengan harapan dia lebih baik, dan lain-lain.

Intinya kehilangan adalah hal yang harus dihadapi terlebih dahulu, untuk persoalan dimengerti silahkan serahkan kepada waktu, karena tidak pada saat kehilangan akan terus diberikan pengganti, ada waktu yang bertugas untuk itu.
Selamat menghadapi kehilangan, semoga kau mampu menikmati dengan cara yang baik, dan mendapati sesuatu yang ternyata lebih manis dari yang kau kira, dan kehilangan menguatkanmu menjadi orang yang lebih dewasa serta menghargai keberadaan orang-orang yang sekarang berada disekitarmu dan mencintai mereka dengan tanpa rasa takut kehilangan.

MZ




Selasa, 15 November 2016

Setidak-tidaknya

setidak-tidaknya aku pernah merindukanmu setelah kepergianmu,
setidak-tidaknya aku pernah berusaha untuk menanyakan kabarmu setelah ketidak pedulianmu,
setidak-tidaknya aku pernah mencari cara agar ada jalan untuk kita kembali menautkan rasa,
setidak-tidaknya aku pernah selalu mengabarkan tentangku meski tidak kau tanyakan,
setidak-tidaknya aku pernah selalu menahan rasa sakit ketika melihatmu bersama yang lain,
setidak-tidaknya aku pernah selalu mengutarakan maaf atas semua yang pernah aku lakukan,
setidak-tidaknya aku pernah selalu ingin memaafkanmu meski kadang terasa berat,
setidak-tidaknya aku pernah yang karenamu tidak lagi memiliki pikiran,
setidak-tidaknya aku pernah berpikir bahwa mencintaimu bukanlah sebuah keaslahan,
setidak-tidaknya aku pernah berpikir bahwa membawamu kembali dalam hidupku adalah satu-satunya jalan yang harus aku tempuh,
setidak-tidaknya aku pernah berpikir sejauh itu,
sejauh yang mungkin tidak pernah ada dalam pikiranmu
setidak-tidaknya perjuanganku adalah sesuatu yang kini harus aku hargai,

karena tanpa kepergianmu tanpa aku pernah ditinggal oleh langkahmu yang menjauh,
aku tidak pernah menemukan dia, yang tidak sama denganmu
membawa sesuatu yang baru.
bukan yang tidak kau punya, tapi mengembalikan bahagiaku yang pernah kau bawa.

-MZ

Minggu, 14 Agustus 2016

Untuk Alya

Alya, rindu begitu mengalir searah dengan pompaan darah ke jantungku. Rindu berdesir disetiap hembusan nafasku. Alya, terlalu besar ternyata rasa yang harus ku abaikan. Terlalu banyak kenangan yang harus kulumpuhkan. Terlalu berat langkah yang harus aku lanjutkan. Alya, menepis rindu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Rasa ini begitu sulit untuk aku lepaskan dari dada dan genggaman. Alya, aku tidak tahu harus menumpahkan rasa kepada siapa. Mengingat semua rasa yang aku punya adalah terlarang adanya. Alya, berapa lama lagi aku harus melihatmu, yang bahagianya tidak bersamaku. Berapa lama lagi aku harus terus-menerus membisu terhadap cemburu. Alya, menerima kepergianmu menjauh tidak semudah yang kau kira. Aku terlihat baik-baik saja, namun apa kau tau Alya, sebesar dan sebanyak senyum dan tawaku ketika bertemu dengan mereka yang termasuk kau, lebih besar usahaku dan rasa sakitku ketika mengingat apa yang terjadi dan harus terjadi diantara kita. Alya, aku mencoba perlahan untuk melupakanmu, aku mencoba selalu menuliskan namamu disetiap ceritaku dengan harapan semakin banyak namamu yang aku tulis berikut dengan kisah kita maka aku akan lebih mudah melupakannya. Namun sepertinya aku salah, sebanyak apapun aku menulis tentangmu, semakin banyak rasa sakit yang aku terima, semakin banyak rasa kecewa yang aku tampung dan semakin banyak rasanya kenangan yang menancap didadaku. Alya, aku kehilanganmu sekali, nmun untuk selamanya. Alya, harapanku telah kau bawa dan kemudian kau kubur dalam-dalam. Alya setiap tempat yang aku tuju hany akan menunjukkan kata menyakitkan. Melihat kau tertawa dikursi yang sama untuk cerita-cerita yang mungkin menurut orang lain tidak ada artinya. Alya, masih jelas betul diingatanku tentang wangi tubuhmu yang membuatku begitu cepat merindu. Pun dengan sentuhan lembutmu mengusap airmataku serta ucapanmu yang membuatku kembali merasa hidup. Tak lupa pelukmu yang seringkali aku mengadu tentang waktu. Alya, aku kehilanganmu. Tepatnya kehilangan kebiasaan yang tidak sengaja diikat dalam waktu. MZ

Senin, 01 Agustus 2016

Melepasmu

Melepasmu

Aku banyak mendengar cerita tentang kisah nyata untuk kisah cinta yang sama. Sama seperti apa yang pernah aku rasakan. Mereka Menceritakan hal yang sama dengan tokoh dan waktu yang berbeda. Namun rasa yang sama. Aku bisa berbagi, namun bukan cerita yang pernah aku alami, melainkan rasa. Rasa yang pernah terjadi padaku yang terlanjur terlalu mencintai.
Mereka mengatakan, "Ya...ya...aku merasakan hal yang serupa. Kau hebat mampu menebaknya". Senyum pahit tergores di kedua pihak bibirku. Ya, pahit. Aku membuat semua luka yang coba kulupa bangkit. 
Aku memendam semuanya sendiri. Tidak ada tempat untuk menumpahkan isi hati. Karena tidak akan ada yang menerima lagi mengerti. Justru akan timbul jarak hati-hati, rasa ngeri, bahkan perlahan pergi. 
Aku mencintainya yang kini pergi. Aku yang memintanya, bahkan memaksanya untuk tidak lagi menganggap aku pernah ada. Terlalu banyak harapan yang pernah aku taruhkan. Terlalu banyak hal baru yang aku lakukan, untuknya. Aku perlahan melupakannya. Melepaskannya. Merelakannya. Rindu adalah hal yang harus aku tabrak jatuh dan kemudian kembali berlari. Begitulah rasanya, mematikan rasa, mengalihkan kecewa, menyeret luka. Kau hanya mampu menghabiskan airmata, ketika cintamu adalah doa yang tidak akan pernah dikabulkan. Tidak mampu apa-apa. Kau hanya bisa mencerca diri, bertanya-tanya kenapa harus dimulai jika harus diakhiri, kenapa harus dia tempat kau menitipkan hati, kenapa tidak yang lain, kenapa butuh waktu yang lama untuk bertahan padahal dari awal kau sudah mengetahui, kenapa harus bertahan untuk hal yang sudah pasti melukai.Kenapa tidak buru-buru pergi jika tidak ingin menghancurkan hati. Kau membuat setip kepingan luka mengendap ke setiap ruang hati. Kau membuatnya melepaskan darah yang harusnya cinta yang ini yang kau obati. Hingga akhirnya kau menyerah kemudian bertanya-tanya, apakah ini cara Tuhan menyayangi? Tuhan terlalu menyayanginya hingga Tuhan melepasmu dari hidupnya. Tuhan tau cinta yang itu, adalah cinta yang tidak dia suka. Dan kemudian, lepaslah kau dari ingatanku dengan segera. penuh doa, semoga kau bahagia dalam mencinta. 

Untukmu, yang kau lihat di mataku adalah luka.
Untukmu, yang kau lihat dari sekujur tubuhku adalah luka.
Untukmu, yang kau lihat dari senyumku adalah luka.
Untukmu, yang berdiri tegar dihadapmu adalah tumpukan luka.
Untukmu, yang emosi yang tertahan ini adalah desakan tertahan dari luka.

Untukmu, semoga kau dapat dicintai yang juga mencintaimu tanpa luka.
Untukmu, semoga yang memelukmu adalah rangkul ikhlas tanpa pisau untuk luka.
Untukmu, semoga setiap percakapan yang kau temui penuh cinta tanpa luka.
Untukmu, semoga rindu yang akan kau dapati nanti menggebu tanpa harus ada luka.
Untukmu, cukup aku yang terluka. Jangan ada lagi cinta yang luka karena alasan yang sama. Kau.

Medan, 2 Agustus 2016


Selasa, 29 Maret 2016

Aku Ingin Melepasmu

Aku tidak tau harus memulai darimana. Dan apa yang harus aku letakkan pada awal cerita. Tapi, mungkin yang selanjutnya kutuliskan bukanlah asal dari segala rasa yang aku tumpahkan dengan tulisan.
Aku sangat ingin melepaskanmu, membiarkanmu hidup dengan cintamu yang bukan padaku pemiliknya, bukan padaku penjaganya. Aku sangat ingin melepaskanmu dengan kegenapan-kegenapan yang kemudian membuatku menjadi ganjil. Aku telah memulainya, segala sesuatu yang sulit harusnya dilakukan dengan usaha-usaha yang kecil, walaupun buahnya kelak belum tentu besar. Karena hasil ditentukan usaha, jika suatu saat hasilnya kurang memuaskan, kurang juga usaha yang dilakukan, jika merasa usaha yang dilakukan telah luar biasa bagi kita, mungkin bagi tuhan itu belum apa-apa atau tuhan menyiapkan jawaban-jawaban yang lebih baik untuk dijalani.
Aku telah melakukan usaha, memulainya dari tidak memberikan kabar setitikpun, mengurangi kebiasaan-kebiasaan kecil yang merupakan bentuk perhatian, sampai tidak bertukar pandang ketika berbicara, serta terang-terangan dengan ungkapan ingin melepaskan.
Sesekali terlintas kembali pertanyaan yang sebelumnya telah mengombang ambingkan perasaan dan kemudian kembali mempertahankan jawana yang ada dan tetap pada jawaban melepaskan. Bentuk pertanyaan seperti untuk apa aku mempertahankan lukisan tuhan yang bukan untukku, yang tidak mau dirinya dimiliki olehku. Pernah dan seringkali aku bertanya padanya, kenapa bukan aku yang bisa memilikimu, kenapa bukan aku yang harus menjagamu, kenapa bukan aku yang kau perkenankan menempati ruang-ruang hatimu yang mulai lusuh oleh masa lalu. Kenapa harus dan masih kau mencari orang yang tidak mencintaimu seperti aku. Dengan pertanyaan-pertanyaan itu, tiada kutemukan jawaban darimu. Kau membiarkanku dengan keberadaan kekosongan harapan. Aku dibiarkan seolah memilikimu.
Setelah usaha yang telah kulakukan, sama seperti halnya kematian, tiada yang mengharapkan untuk terpaksa melepaskan. Seperti itulah aku padamu, namun harus kulakukan, demi aku yang ingin kebaikan, dan demimu yang inginku memiliki harapan.
Dan kemudian, entah apa yang tuhan lakukan, kita selalu dipertemukan pada suatu kesempatan berhadapan, dan tubuhku rasanya ingin menumpahimu dengan dekapan dengan pelukan yang seolah menggugurkan keinginanku untuk melepaskan.
Memelukmu seakan membangkitkan setiap ingatan, setiap lukisan, dan setiap kenangan yang pernah kita goreskan dengan tangan yang tintanya tawa dan airmata. 
Dan kemudian kejadian ini terus berulang, yang ujungnya belum dapat kuceritakan dalam tulisan, karena ini hanya seperempat dari sebagian perjalanan yang mampu aku tumpahkan dengan ketikan tangan yang sederhana namun dengan kejujuran yang penuh. Sekian.

Jumat, 14 Agustus 2015

Selamat atas keberhasilanmu

Selamat sukses untuk keberhasilanmu
Membuatku jatuh sekaligus cinta
Membuatku suka sekaligus lara

Mari kita rayakan dengan cara yang berbeda
Kau tertawa sesambil aku melepasmu dengan keberadaannya
Aku tak menangis, namun juga tak mampu tersenyum bahagia

Itulah aku, bangga pada cintaku yang satu
Meski setelah itu akubtak tahu lagi menahu
Tentang pilihanmu yang sungguh membuat aku patah