Senin, 01 Agustus 2016

Melepasmu

Melepasmu

Aku banyak mendengar cerita tentang kisah nyata untuk kisah cinta yang sama. Sama seperti apa yang pernah aku rasakan. Mereka Menceritakan hal yang sama dengan tokoh dan waktu yang berbeda. Namun rasa yang sama. Aku bisa berbagi, namun bukan cerita yang pernah aku alami, melainkan rasa. Rasa yang pernah terjadi padaku yang terlanjur terlalu mencintai.
Mereka mengatakan, "Ya...ya...aku merasakan hal yang serupa. Kau hebat mampu menebaknya". Senyum pahit tergores di kedua pihak bibirku. Ya, pahit. Aku membuat semua luka yang coba kulupa bangkit. 
Aku memendam semuanya sendiri. Tidak ada tempat untuk menumpahkan isi hati. Karena tidak akan ada yang menerima lagi mengerti. Justru akan timbul jarak hati-hati, rasa ngeri, bahkan perlahan pergi. 
Aku mencintainya yang kini pergi. Aku yang memintanya, bahkan memaksanya untuk tidak lagi menganggap aku pernah ada. Terlalu banyak harapan yang pernah aku taruhkan. Terlalu banyak hal baru yang aku lakukan, untuknya. Aku perlahan melupakannya. Melepaskannya. Merelakannya. Rindu adalah hal yang harus aku tabrak jatuh dan kemudian kembali berlari. Begitulah rasanya, mematikan rasa, mengalihkan kecewa, menyeret luka. Kau hanya mampu menghabiskan airmata, ketika cintamu adalah doa yang tidak akan pernah dikabulkan. Tidak mampu apa-apa. Kau hanya bisa mencerca diri, bertanya-tanya kenapa harus dimulai jika harus diakhiri, kenapa harus dia tempat kau menitipkan hati, kenapa tidak yang lain, kenapa butuh waktu yang lama untuk bertahan padahal dari awal kau sudah mengetahui, kenapa harus bertahan untuk hal yang sudah pasti melukai.Kenapa tidak buru-buru pergi jika tidak ingin menghancurkan hati. Kau membuat setip kepingan luka mengendap ke setiap ruang hati. Kau membuatnya melepaskan darah yang harusnya cinta yang ini yang kau obati. Hingga akhirnya kau menyerah kemudian bertanya-tanya, apakah ini cara Tuhan menyayangi? Tuhan terlalu menyayanginya hingga Tuhan melepasmu dari hidupnya. Tuhan tau cinta yang itu, adalah cinta yang tidak dia suka. Dan kemudian, lepaslah kau dari ingatanku dengan segera. penuh doa, semoga kau bahagia dalam mencinta. 

Untukmu, yang kau lihat di mataku adalah luka.
Untukmu, yang kau lihat dari sekujur tubuhku adalah luka.
Untukmu, yang kau lihat dari senyumku adalah luka.
Untukmu, yang berdiri tegar dihadapmu adalah tumpukan luka.
Untukmu, yang emosi yang tertahan ini adalah desakan tertahan dari luka.

Untukmu, semoga kau dapat dicintai yang juga mencintaimu tanpa luka.
Untukmu, semoga yang memelukmu adalah rangkul ikhlas tanpa pisau untuk luka.
Untukmu, semoga setiap percakapan yang kau temui penuh cinta tanpa luka.
Untukmu, semoga rindu yang akan kau dapati nanti menggebu tanpa harus ada luka.
Untukmu, cukup aku yang terluka. Jangan ada lagi cinta yang luka karena alasan yang sama. Kau.

Medan, 2 Agustus 2016


Tidak ada komentar:

Posting Komentar