Melepasmu
Aku banyak mendengar cerita tentang kisah nyata
untuk kisah cinta yang sama. Sama seperti apa yang pernah aku rasakan. Mereka
Menceritakan hal yang sama dengan tokoh dan waktu yang berbeda. Namun rasa yang
sama. Aku bisa berbagi, namun bukan cerita yang pernah aku alami, melainkan
rasa. Rasa yang pernah terjadi padaku yang terlanjur terlalu mencintai.
Mereka mengatakan, "Ya...ya...aku merasakan hal
yang serupa. Kau hebat mampu menebaknya". Senyum pahit tergores di kedua
pihak bibirku. Ya, pahit. Aku membuat semua luka yang coba kulupa bangkit.
Aku memendam semuanya sendiri. Tidak ada tempat
untuk menumpahkan isi hati. Karena tidak akan ada yang menerima lagi mengerti.
Justru akan timbul jarak hati-hati, rasa ngeri, bahkan perlahan pergi.
Aku mencintainya yang kini pergi. Aku yang
memintanya, bahkan memaksanya untuk tidak lagi menganggap aku pernah ada.
Terlalu banyak harapan yang pernah aku taruhkan. Terlalu banyak hal baru yang
aku lakukan, untuknya. Aku perlahan melupakannya. Melepaskannya. Merelakannya. Rindu
adalah hal yang harus aku tabrak jatuh dan kemudian kembali berlari. Begitulah
rasanya, mematikan rasa, mengalihkan kecewa, menyeret luka. Kau hanya mampu
menghabiskan airmata, ketika cintamu adalah doa yang tidak akan pernah
dikabulkan. Tidak mampu apa-apa. Kau hanya bisa mencerca diri, bertanya-tanya
kenapa harus dimulai jika harus diakhiri, kenapa harus dia tempat kau
menitipkan hati, kenapa tidak yang lain, kenapa butuh waktu yang lama untuk
bertahan padahal dari awal kau sudah mengetahui, kenapa harus bertahan untuk
hal yang sudah pasti melukai.Kenapa tidak buru-buru pergi jika tidak ingin
menghancurkan hati. Kau membuat setip kepingan luka mengendap ke setiap ruang
hati. Kau membuatnya melepaskan darah yang harusnya cinta yang ini yang kau
obati. Hingga akhirnya kau menyerah kemudian bertanya-tanya, apakah ini
cara Tuhan menyayangi? Tuhan terlalu menyayanginya hingga Tuhan melepasmu dari
hidupnya. Tuhan tau cinta yang itu, adalah cinta yang tidak dia suka. Dan
kemudian, lepaslah kau dari ingatanku dengan segera. penuh doa, semoga kau
bahagia dalam mencinta.
Untukmu, yang kau lihat di mataku adalah luka.
Untukmu, yang kau lihat dari sekujur tubuhku adalah
luka.
Untukmu, yang kau lihat dari senyumku adalah luka.
Untukmu, yang berdiri tegar dihadapmu adalah
tumpukan luka.
Untukmu, yang emosi yang tertahan ini adalah desakan
tertahan dari luka.
Untukmu, semoga kau dapat dicintai yang juga
mencintaimu tanpa luka.
Untukmu, semoga yang memelukmu adalah rangkul ikhlas
tanpa pisau untuk luka.
Untukmu, semoga setiap percakapan yang kau temui
penuh cinta tanpa luka.
Untukmu, semoga rindu yang akan kau dapati nanti
menggebu tanpa harus ada luka.
Untukmu, cukup aku yang terluka. Jangan ada lagi
cinta yang luka karena alasan yang sama. Kau.
Medan, 2 Agustus 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar