Alya,
rindu begitu mengalir searah dengan pompaan darah ke jantungku. Rindu berdesir
disetiap hembusan nafasku. Alya, terlalu besar ternyata rasa yang harus ku
abaikan. Terlalu banyak kenangan yang harus kulumpuhkan. Terlalu berat langkah
yang harus aku lanjutkan. Alya, menepis rindu tidak semudah membalikkan telapak
tangan. Rasa ini begitu sulit untuk aku lepaskan dari dada dan genggaman. Alya,
aku tidak tahu harus menumpahkan rasa kepada siapa. Mengingat semua rasa yang
aku punya adalah terlarang adanya. Alya, berapa lama lagi aku harus melihatmu,
yang bahagianya tidak bersamaku. Berapa lama lagi aku harus terus-menerus membisu
terhadap cemburu. Alya, menerima kepergianmu menjauh tidak semudah yang kau
kira. Aku terlihat baik-baik saja, namun apa kau tau Alya, sebesar dan sebanyak
senyum dan tawaku ketika bertemu dengan mereka yang termasuk kau, lebih besar
usahaku dan rasa sakitku ketika mengingat apa yang terjadi dan harus terjadi
diantara kita. Alya, aku mencoba perlahan untuk melupakanmu, aku mencoba selalu
menuliskan namamu disetiap ceritaku dengan harapan semakin banyak namamu yang
aku tulis berikut dengan kisah kita maka aku akan lebih mudah melupakannya. Namun
sepertinya aku salah, sebanyak apapun aku menulis tentangmu, semakin banyak
rasa sakit yang aku terima, semakin banyak rasa kecewa yang aku tampung dan
semakin banyak rasanya kenangan yang menancap didadaku. Alya, aku kehilanganmu
sekali, nmun untuk selamanya. Alya, harapanku telah kau bawa dan kemudian kau
kubur dalam-dalam. Alya setiap tempat yang aku tuju hany akan menunjukkan kata
menyakitkan. Melihat kau tertawa dikursi yang sama untuk cerita-cerita yang
mungkin menurut orang lain tidak ada artinya. Alya, masih jelas betul
diingatanku tentang wangi tubuhmu yang membuatku begitu cepat merindu. Pun dengan
sentuhan lembutmu mengusap airmataku serta ucapanmu yang membuatku kembali
merasa hidup. Tak lupa pelukmu yang seringkali aku mengadu tentang waktu. Alya,
aku kehilanganmu. Tepatnya kehilangan kebiasaan yang tidak sengaja diikat dalam
waktu. MZ
Minggu, 14 Agustus 2016
Senin, 01 Agustus 2016
Melepasmu
Melepasmu
Aku banyak mendengar cerita tentang kisah nyata
untuk kisah cinta yang sama. Sama seperti apa yang pernah aku rasakan. Mereka
Menceritakan hal yang sama dengan tokoh dan waktu yang berbeda. Namun rasa yang
sama. Aku bisa berbagi, namun bukan cerita yang pernah aku alami, melainkan
rasa. Rasa yang pernah terjadi padaku yang terlanjur terlalu mencintai.
Mereka mengatakan, "Ya...ya...aku merasakan hal
yang serupa. Kau hebat mampu menebaknya". Senyum pahit tergores di kedua
pihak bibirku. Ya, pahit. Aku membuat semua luka yang coba kulupa bangkit.
Aku memendam semuanya sendiri. Tidak ada tempat
untuk menumpahkan isi hati. Karena tidak akan ada yang menerima lagi mengerti.
Justru akan timbul jarak hati-hati, rasa ngeri, bahkan perlahan pergi.
Aku mencintainya yang kini pergi. Aku yang
memintanya, bahkan memaksanya untuk tidak lagi menganggap aku pernah ada.
Terlalu banyak harapan yang pernah aku taruhkan. Terlalu banyak hal baru yang
aku lakukan, untuknya. Aku perlahan melupakannya. Melepaskannya. Merelakannya. Rindu
adalah hal yang harus aku tabrak jatuh dan kemudian kembali berlari. Begitulah
rasanya, mematikan rasa, mengalihkan kecewa, menyeret luka. Kau hanya mampu
menghabiskan airmata, ketika cintamu adalah doa yang tidak akan pernah
dikabulkan. Tidak mampu apa-apa. Kau hanya bisa mencerca diri, bertanya-tanya
kenapa harus dimulai jika harus diakhiri, kenapa harus dia tempat kau
menitipkan hati, kenapa tidak yang lain, kenapa butuh waktu yang lama untuk
bertahan padahal dari awal kau sudah mengetahui, kenapa harus bertahan untuk
hal yang sudah pasti melukai.Kenapa tidak buru-buru pergi jika tidak ingin
menghancurkan hati. Kau membuat setip kepingan luka mengendap ke setiap ruang
hati. Kau membuatnya melepaskan darah yang harusnya cinta yang ini yang kau
obati. Hingga akhirnya kau menyerah kemudian bertanya-tanya, apakah ini
cara Tuhan menyayangi? Tuhan terlalu menyayanginya hingga Tuhan melepasmu dari
hidupnya. Tuhan tau cinta yang itu, adalah cinta yang tidak dia suka. Dan
kemudian, lepaslah kau dari ingatanku dengan segera. penuh doa, semoga kau
bahagia dalam mencinta.
Untukmu, yang kau lihat di mataku adalah luka.
Untukmu, yang kau lihat dari sekujur tubuhku adalah
luka.
Untukmu, yang kau lihat dari senyumku adalah luka.
Untukmu, yang berdiri tegar dihadapmu adalah
tumpukan luka.
Untukmu, yang emosi yang tertahan ini adalah desakan
tertahan dari luka.
Untukmu, semoga kau dapat dicintai yang juga
mencintaimu tanpa luka.
Untukmu, semoga yang memelukmu adalah rangkul ikhlas
tanpa pisau untuk luka.
Untukmu, semoga setiap percakapan yang kau temui
penuh cinta tanpa luka.
Untukmu, semoga rindu yang akan kau dapati nanti
menggebu tanpa harus ada luka.
Untukmu, cukup aku yang terluka. Jangan ada lagi
cinta yang luka karena alasan yang sama. Kau.
Medan, 2 Agustus 2016
Langganan:
Postingan (Atom)