Minggu, 14 Agustus 2016

Untuk Alya

Alya, rindu begitu mengalir searah dengan pompaan darah ke jantungku. Rindu berdesir disetiap hembusan nafasku. Alya, terlalu besar ternyata rasa yang harus ku abaikan. Terlalu banyak kenangan yang harus kulumpuhkan. Terlalu berat langkah yang harus aku lanjutkan. Alya, menepis rindu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Rasa ini begitu sulit untuk aku lepaskan dari dada dan genggaman. Alya, aku tidak tahu harus menumpahkan rasa kepada siapa. Mengingat semua rasa yang aku punya adalah terlarang adanya. Alya, berapa lama lagi aku harus melihatmu, yang bahagianya tidak bersamaku. Berapa lama lagi aku harus terus-menerus membisu terhadap cemburu. Alya, menerima kepergianmu menjauh tidak semudah yang kau kira. Aku terlihat baik-baik saja, namun apa kau tau Alya, sebesar dan sebanyak senyum dan tawaku ketika bertemu dengan mereka yang termasuk kau, lebih besar usahaku dan rasa sakitku ketika mengingat apa yang terjadi dan harus terjadi diantara kita. Alya, aku mencoba perlahan untuk melupakanmu, aku mencoba selalu menuliskan namamu disetiap ceritaku dengan harapan semakin banyak namamu yang aku tulis berikut dengan kisah kita maka aku akan lebih mudah melupakannya. Namun sepertinya aku salah, sebanyak apapun aku menulis tentangmu, semakin banyak rasa sakit yang aku terima, semakin banyak rasa kecewa yang aku tampung dan semakin banyak rasanya kenangan yang menancap didadaku. Alya, aku kehilanganmu sekali, nmun untuk selamanya. Alya, harapanku telah kau bawa dan kemudian kau kubur dalam-dalam. Alya setiap tempat yang aku tuju hany akan menunjukkan kata menyakitkan. Melihat kau tertawa dikursi yang sama untuk cerita-cerita yang mungkin menurut orang lain tidak ada artinya. Alya, masih jelas betul diingatanku tentang wangi tubuhmu yang membuatku begitu cepat merindu. Pun dengan sentuhan lembutmu mengusap airmataku serta ucapanmu yang membuatku kembali merasa hidup. Tak lupa pelukmu yang seringkali aku mengadu tentang waktu. Alya, aku kehilanganmu. Tepatnya kehilangan kebiasaan yang tidak sengaja diikat dalam waktu. MZ

Senin, 01 Agustus 2016

Melepasmu

Melepasmu

Aku banyak mendengar cerita tentang kisah nyata untuk kisah cinta yang sama. Sama seperti apa yang pernah aku rasakan. Mereka Menceritakan hal yang sama dengan tokoh dan waktu yang berbeda. Namun rasa yang sama. Aku bisa berbagi, namun bukan cerita yang pernah aku alami, melainkan rasa. Rasa yang pernah terjadi padaku yang terlanjur terlalu mencintai.
Mereka mengatakan, "Ya...ya...aku merasakan hal yang serupa. Kau hebat mampu menebaknya". Senyum pahit tergores di kedua pihak bibirku. Ya, pahit. Aku membuat semua luka yang coba kulupa bangkit. 
Aku memendam semuanya sendiri. Tidak ada tempat untuk menumpahkan isi hati. Karena tidak akan ada yang menerima lagi mengerti. Justru akan timbul jarak hati-hati, rasa ngeri, bahkan perlahan pergi. 
Aku mencintainya yang kini pergi. Aku yang memintanya, bahkan memaksanya untuk tidak lagi menganggap aku pernah ada. Terlalu banyak harapan yang pernah aku taruhkan. Terlalu banyak hal baru yang aku lakukan, untuknya. Aku perlahan melupakannya. Melepaskannya. Merelakannya. Rindu adalah hal yang harus aku tabrak jatuh dan kemudian kembali berlari. Begitulah rasanya, mematikan rasa, mengalihkan kecewa, menyeret luka. Kau hanya mampu menghabiskan airmata, ketika cintamu adalah doa yang tidak akan pernah dikabulkan. Tidak mampu apa-apa. Kau hanya bisa mencerca diri, bertanya-tanya kenapa harus dimulai jika harus diakhiri, kenapa harus dia tempat kau menitipkan hati, kenapa tidak yang lain, kenapa butuh waktu yang lama untuk bertahan padahal dari awal kau sudah mengetahui, kenapa harus bertahan untuk hal yang sudah pasti melukai.Kenapa tidak buru-buru pergi jika tidak ingin menghancurkan hati. Kau membuat setip kepingan luka mengendap ke setiap ruang hati. Kau membuatnya melepaskan darah yang harusnya cinta yang ini yang kau obati. Hingga akhirnya kau menyerah kemudian bertanya-tanya, apakah ini cara Tuhan menyayangi? Tuhan terlalu menyayanginya hingga Tuhan melepasmu dari hidupnya. Tuhan tau cinta yang itu, adalah cinta yang tidak dia suka. Dan kemudian, lepaslah kau dari ingatanku dengan segera. penuh doa, semoga kau bahagia dalam mencinta. 

Untukmu, yang kau lihat di mataku adalah luka.
Untukmu, yang kau lihat dari sekujur tubuhku adalah luka.
Untukmu, yang kau lihat dari senyumku adalah luka.
Untukmu, yang berdiri tegar dihadapmu adalah tumpukan luka.
Untukmu, yang emosi yang tertahan ini adalah desakan tertahan dari luka.

Untukmu, semoga kau dapat dicintai yang juga mencintaimu tanpa luka.
Untukmu, semoga yang memelukmu adalah rangkul ikhlas tanpa pisau untuk luka.
Untukmu, semoga setiap percakapan yang kau temui penuh cinta tanpa luka.
Untukmu, semoga rindu yang akan kau dapati nanti menggebu tanpa harus ada luka.
Untukmu, cukup aku yang terluka. Jangan ada lagi cinta yang luka karena alasan yang sama. Kau.

Medan, 2 Agustus 2016