Rabu, 09 April 2014

Tentang Kehilangan

Ternyata kehilangan adalah sesuatu yang tidak selamanya harus disesali, tidak selamanya harus ditangisi, tidak selamanya menyimpan duka yang dalam. Karena pertemuan pasti akan terjadi lagi. Jadi kesimpulannya, kehilangan atau kepergian seseorang adalah pertemuan kembali dengannya dengan situasi dan keadaan yang berbeda. Entah kamu atau dia yang berubah, entah kalian dan kehidupan kalian yang berubah, entahlah. Karena pada dasarnya waktu adalah sebuah hal yang tidak konstan, dia terus bergerak menemui serta meninggalkan. Perubahan juga selalu beriringan dengan itu. Usiamu, keberhasilanmu, kegagalanmu, dan semua takdir yang dituliskan untukmu.
Kehilangan adalah sesuatu yang berat jika tidak ada persiapan. Pertanyaannya, kapan persiapan kehilangan harus dilakukan?, persiapan seperti apakah yang harus dilakukan?, dan kenapa harus memiliki persiapan?. Persiapan kehilangan harus dilakukan setelah pertama kau bertegur sapa dengannya. Karena dapat dipastikan pertemuan itu awal dari bahagiamu, bertemu dengan sesuatu yang baru juga awal dari kesedihanmu. Karena pertemuan adalah awal dari segalanya. Persiapan yang harus dilakukan untuk sebuah kehilangan adalah pertanyaan yang sampai saat ini saya sendiri masih memikirkannya, seringkali merenungkannya. Jika kita melakukan hal-hal seperti menjaga jarak atau menganggap semuanya biasa saja adalah sebuah hal yang sulit apalagi jika kita telah menemukan “nyaman” dalam pertemuan itu. Pertanyaan itu silahkan renungkan sendiri jawabannya, dan jangan gegabah dalam mengambil keputusan untuk menjauhi jika sudah terlalu takut. Lebih baik menjaga, lakukan apa yang seharusnya dan tidak melakukan apa yang seharusnya tidak. Bukan berarti menghindari apa yang biasa dilakukan. Dan menghilangkan kebiasaan yang serinng dilakukan bersama. Jadi sebenarnya adalah sebuah hal yang sulit untuk menerima dengan cepat jika kehilangan itu datang. Sebenarnya tidak ada guna mempersiapkan itu semua, selain disaat kehilangan disaat itu juga mau tidak mau kau harus menerimanya, mau tidak mau kau harus hidup dalam kenyataan, meski dia tak lagi ada dalam nyatamu. Meski dia terlihat tapi kalian tak lagi bisa untuk berbicara. Meski kalian sudah hafal kebiasaan satu sama lain, namun harus membiasakan diri untuk tidak mengingatkannya atau melakukan bersamanya dan harus menjadikan kebiasaan itu adalah hal yang tak lagi harus dilakukan dalam hidup kalian.


Kehilangan... kehilangan... oh kehilangan
Teruntuk kehilangan
Terimakasih telah menyambangi kebahagiaanku
Terimakasih telah selalu menjadi awal untuk pertemuanku dengan hal dan sesuatu yang baru
Terimakasih telah mengingatkanku rasanya menangis untuk kepergian
Terimakasih telah mengingatkanku kalau rencana Tuhan indah
Terimakasih telah mengingatkanku rasanya terjatuh, sakit dan kemudian harus bangkit
Terimakasih untuk mengingatkan kalau hidup tidak selamanya baik, namun tidak juga jahat
Terimakasih telah memberi peringatan bahwa hidup itu selalu berwarna, meski tidak semua warna adalah cerah
Terimakasih telah menyajikan keindahan setelah itu
Terimakasih meski dalam waktu lama aku baru menyadari selalu ada makna di balikmu
Terimakasih
Kehilangan... kehilangan... ooh kehilangan
Hadirmu adalah hal yang tidak diharapkan, namun kau dengan sopan menyambangi hidup anak-anak didunia, kemudian pergi tanpa permisi, dan kembali dengan kebahagiaan baru, lalu kau merenggutnya kembali, dan begitu seterusnya.


Nb: ini adalah hasil pemikiran saya, jika pembaca tidak setuju jangan dibaca.