Pada tanggal 21 November 2016, saya membawakan safety talk kepada rekan-rekan kerja saya. Materi saya pada saat itu adalah mengenai Budaya K3, saya membawakannya dengan mengawali kata kehilangan. Saya akan ilustrasikan.
S : Selamat pagi, rekan-rekan sekalian. Seperti biasa, pada setiap hari senin pagi saya akan menyampaikan beberapa hal dan informasi terkait Keselamatan dan Kesehatan Kerja untuk kita semua.
R : Pagi !!!
S : Bagaimana menurut rekan-rekan sekalian, apakah kehilangan itu sakit?? kehilangan itu adalah hal yang buruk ya??
R : Sakit!! Menyedihkan!! Tidak enak!!
Ada seorang rekan saya yang nyeletuk :
R : Tapi, kehilangan rasa sakit adalah sesuatu yang harus di syukuri karena itu adalah sebuah kebaikan.
S : (saya terdiam beberapa saat) iya juga ya pak.
Setelah rekan saya mengatakan hal tersebut, tiba-tiba saja semua materi yang telah saya persiapkan menghilang dari pikiran saya. Saya mencoba mengingat semua bahan yang seharusnya saya sampaikan pada waktu itu, namun rasanya percuma. Pada akhirnya saya menyampaikan hal-hal yang tidak relevan dengan apa yang telah saya sampaikan. Rasanya saya ingin segera mengakhiri kegiatan tersebut detik itu. Dan saya mengakhirinya dengan sangat buruk tugas saya pada hari itu.
Saya memikirkan kebenaran mengenai hal tersebut, ternyata selama ini yang biasa dilakukan sebagian besar orang termasuk saya, saat merasa kehilangan adalah kesedihan, kesedihan, dan kesedihan. Kesedihan yang dalam berbagai tingkatan, kesedihan yang hanya sesaat, kesedihan berkepanjangan, menyembunyikan kesedihan, menyimpan kesedihan, menceritakan kesedihan dan lain-lain.
Ya, setelah dipikirkan lagi, kesedihan adalah sesuatu yang wajar dan bahkan harus dilakukan ketika seseorang menghadapi kehilangan. Tapi apakah cara-cara yang dilakukan oleh orang-orang yang merasa kehilangan dapat benar-benar membawa diri mereka menjadi seseorang yang lebih baik, atau lebih buruk. Mengantarkan mereka kepada sesuatu yang lebih baik atau sama saja atau lebih buruk.
Kehilangan bukanlah sesuatu yang direncanakan, ia selalu diakhiri dengan sebuah penyesalan. Urusan kembali bangkit dari keterpurukan adalah selalu belakangan, tergantung dari pribadi yang kehilangan.
Kehilangan itu seperti sakit, bisa dicegah dengan cara-cara yang ada, tapi jika semua usaha telah dilakukan kehilangan tetap terjadi, hanya bisa pasrah.
Kehilangan juga seperti kecelakan, bukan sesuatu yang diharapkan. Terjadi tanpa keinginan dan perencanaan.
Selalu ada hikmah dibalik sebuah kejadian, hal tersebut seperti sebuah kepastian yang dihadapi. Tidak hanya kehilangan, segala sesuatu, dalam hidup, pada kenyataannya adalah hal-hal yang harus dihadapi. Segala sesuatu, dan segala kondisi, serta segala waktu. (termasuk kamu, karena kamu segalanya) hahaha.
Selalu ada kebaikan setelah kita melalui segala (yang kita anggap) keburukan. Meski hal tersebut tidak datang secara berdampingan dan dalam waktu yang instan.
Kenapa kebaikan selalu dinanti, dan tidak ada satupun yang menanti keburukan? karena keburukan adalah bukan bagian dari harapan. Untuk hidup, jika gagal kita butuh sebuah kesempatan entah untuk gagal lagi atau untuk berhasil. (semakin jauh dari judul dan pembahasan)
Jadi kehilangan adalah sesuatu yang pada saatnya harus disyukuri, pada saatnya juga kita akan mengingatkan diri kita kembali bahwa jika hal yang pernah kita lalui kehilangan yang pernah kita hadapi memberikan sesuatu yang lebih berarti, lebih baik. Entah itu untuk diri kita sendiri, bahkan untuk orang lain.
Jika ada yang menanyakan perihal obat apa yang bisa menyembuhkan, hal apa yang bisa diperbuat, dan lain-lain untuk mengobati rasa luka dari kehilangan, tidak ada jawaban yang pasti untuk hal tersebut yang dipertanyakan.
Tubuh kita diciptakan dengan kekuatan masing-masing, berbeda-beda satu sama lain, entah itu ketahanan antibodi, ketahanan akan rasa sakit dihati dan lain-lain. Jadi, coba dinikmati. Jika tidak merasakan rasa sakit, maka tidak akan sembuh. penyembuhan dapat dilakukan dengan cara kita yang nyaman untuk sendiri-sendiri. Ada yang senang menangis sampai harus mengisi airmata lagi, ada yang tertawa menceritakan kesedihan dan keresanhannya dengan cara berbagi dengan orang lain, ada yang menuliskan kesedihannya untuk suatu waktu akan dikenang dan membawanya keingatan yang pernah membuatnya jatuh, ada yang mencari pengganti dengan harapan dia lebih baik, dan lain-lain.
Intinya kehilangan adalah hal yang harus dihadapi terlebih dahulu, untuk persoalan dimengerti silahkan serahkan kepada waktu, karena tidak pada saat kehilangan akan terus diberikan pengganti, ada waktu yang bertugas untuk itu.
Selamat menghadapi kehilangan, semoga kau mampu menikmati dengan cara yang baik, dan mendapati sesuatu yang ternyata lebih manis dari yang kau kira, dan kehilangan menguatkanmu menjadi orang yang lebih dewasa serta menghargai keberadaan orang-orang yang sekarang berada disekitarmu dan mencintai mereka dengan tanpa rasa takut kehilangan.
MZ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar